Minggu, 10 Maret 2013

Sebulan Tinggal Di Bandung - Makan, Makan dan Makan

Tinggal di Bandung. Tiba-tiba saya mendapat kabar dari Management kalau saya harus berangkat ke Bandung untuk assignment baru. Sudah sering saya ke Bandung tetapi baru kali ini mendapatkan tugas dan harus menetap disana. Pertama yang terbayang adalah harus jauh dari anak-anak. Jauh dari anak-anak adalah hal baru yang selama ini sangat menyiksa saya. Jauh dari anak-anak yang 'norak-norak' itu selama 3 hari perjalanan dinas sudah membuat saya 'kalang kabut', apalagi harus berpisah seminggu sekali, waduh kebayang beratnya. Tetapi tugas adalah tugas dan harus dilaksanakan. Dengan berat hati, saya harus melalui hal ini dan mulai pengalaman baru, tinggal jauh dari Jakarta.

Pertama kali menginjakkan tiba di Bandung adalah bertemu dengan staf-staf baru di kantor Bandung, setelah itu mencari tempat kos yang aman, nyaman dan harus serasa dirumah. Setelah 3-4 tempat kos saya datangi, akhirnya sampai juga di tempat kos yang saya cari-cari di sekitar Cipaganti. Tempat kos yang seperti rumah dengan kamar yang luas, kamar mandi didalam, ada kabel TV(cuma kabelnya saja & TV-nya harus beli sendiri), internet, shower air panas & air dingin, cuci-setrika, free flow Aqua & Ibu-Bapak kos yang ramah. Yang Maha Kuasa memberikan tempat menginap yang saya minta.

Mandi pagi hari di Bandung awalnya sangat menyiksa, meskipun ada air panas tetapi saya beranikan diri mandi ketika waktu subuh dengan air dingin. Rasanya luaarrr biasa, seharian kerja, badan rasanya segar sekali. Semenjak itu saya sudah menjadi USA (Urang Sunda Asli) kata teman-teman asli Bandung jika sudah berani mandi air dingin di Bandung. Sepertinya tidak pernah saya mandi air panas ketika mandi pagi & saya selalu menunggu-nunggu pagi untuk mandi karena memang badan terasa segar dan fresh.

Sarapan tidak menjadi kendala. Jalan sebentar dari kos sudah ada Ibu-Ibu yang menjual nasi kuning plus lauknya. Hanya dengan IDR 7,000 saya sudah kenyang sekali. Karena kantor disekitar jalan Riau, kalau tidak sempat sarapan di kos, saya suka sarapan di sekitar jalan Saparua. Mulai dari bubur ayam, kupat tahu, dimsum sampai tempe mendoan ada disana. Hanya duduk dan beralaskan rindangnya pohon, sarapan di jalan Saparua sangat menyenangkan, apalagi ditambah dengan AC alam yang sepoi-sepoi.

Makan siang di daerah Riau tidak ada masalah. Di sekitar jalan Progo banyak sekali tempat makan yang asyik-asyik, ada Kopi Progo, Tokyo Connection dan banyak lagi dan relatif lebih murah jika dibandingkan dengan kualitas yang sama di Jakarta. Di sekitar stadion Pelti ada juga tempat makan sederhana, saya pernah makan disana hanya dengan IDR 13,000 sudah dapat nasi timbel, ayam goreng plus 2 perkedel jagung & sambalnya yang mantabbb, bayangkan di Bandung meskipun siang lumayan sejuk tetapi makan siangnya sambil keringetan. Jadi, disana hanya bingung, hari ini mau makan apa?

Makan malam biasanya lebih sulit & biayanya lebih mahal dari sarapan atau makan siang. Alhamdulillah ada kendaraan untuk antar & jemput saya, jadi mencari makan malam lumayan lebih gampang. Tempat favorit makan malam saya, baik dine-in atau take away adalah Sate Kambing Pak Gino di jalan Sunda. Dengan IDR 30,000 saya sudah bisa dapat nasi plus 10 tusuk sate kambing yang yummy. Satu lagi tempat makan yang asyik adalah Karnivor, tempat makan steak di jalan Riau. Harga di Karnivor lumayan relatif murah dan yang menantang adalah Monster Steak-nya. Monster Steak adalah steak dengan berat sekitar 1 kg dengan harga sekitar IDR 160,000-an. Jika anda datang bertiga atau berempat, anda cukup memesan 1 Monster Steak dan berbagilah steak itu karena dijamin cukup. Plus order Gorilla Punch, maka makan Monster Steak akan lebih komplit. Karnivor memiliki suasana yang cukup nyaman untuk ngobrol, kadang-kadang saya keasyikan ngobrol sampai sekitar jam 11-12 malam dengan teman-teman.

Disekitar kantor di jalan Riau, untuk refresh sejenak setelah seharian kerja, hanya sekedar minum kopi atau teh atau makan cemilan pada sore hari, banyak tempat untuk itu. Saya paling suka di Walini karena disana ada menu Teh Susu, semacam teh tarik. Sore menjelang Magrib, duduk di Walini sambil nge-teh dengan udara Bandung yang bertambah sejuk ditambah hangatnya Teh Susu Walini (cuma IDR 7,000) & melihat turis (lokal maupun internasional) yang hilir mudik menjadikan pikiran bertambah rileks & fresh. Ngobrol pun kadang-kadang sampai jam 8 malam. Ada lagi Dakken, untuk yang mau makan malam atau sekedar ngopi. Ada juga food court di Heritage untuk makan malam, atau disebelahnya ada penjual otak-otak buat yang suka ngemil.

Kalau mau beli cemilan malam untuk di kos, saya sering ke jalan Burangrang untuk beli Martabak San Francisco atau Batagor Riri. Martabak manis adalah favorit saya dan di Bandung baru Martabak San Fransisco yang saya coba & memang harganya relatif lebih mahal sekitar IDR 40,000-an untuk martabak manis komplit keju, susu, coklat wijen plus butter Wijsman porsi kecil.

Satu lagi jajanan khas Bandung adalah Kue Balok. Kalau sore-sore ada kue balok dengan teh panas, suasana bertambah segar. Di sekitar Gedung Sate, kue balok bisa dibeli di Rumah Makan Nasi Bancakan di jalan Trunojoyo. Rumah Makan Nasi Bancakan adalah rumah makan khas Sunda dengan suasana tempo doeloe. Jika anda suka Masakan Sunda, saya menyarankan anda untuk mengunjungi rumah makan ini.

Memang Bandung adalah tempat bagi anda yang suka dengan pengalaman kuliner. Masih banyak tempat yang harus dikunjungi dan pengalaman kuliner memang akan bertambah selama tinggal di Bandung. Anda akan terkejut jika mendapatkan makanan di pinggir jalan dengan harga yang relatif murah tetapi memiliki rasa yang dahsyat. Suasana yang sejuk sangat mendukung keinginan kita untuk mencicipi berbagai makanan yang tersedia. Saya rasa, berat badan saya bertambah banyak hanya baru tinggal 1 bulan di Bandung. Bagi anda yang sangat menjaga berat badan, berani mencoba?

Selama Tinggal di Bandung, persis pas musim hujan, jadi jarang sekali saya merasakan sinar matahari. Sehari-hari kalau tidak mendung, ya hujan lumayan lama.

Alhamdulillah, lokasi kantor sangat mendukung untuk meminimalkan stress karena dari kantor jika sudah mulai lelah, saya hanya melihat keluar jendela dan pemandangan pegunungan sudah terlihat jelas. Sedikit keluar ruangan, pemandangan gunung Tangkuban Perahu dengan Lembang-nya terlihat jelas. Kalau di Jakarta kan butuh 1,5 jam untuk melihat gunung di Puncak, kalau di Bandung hanya beberapa langkah saja.

Selama saya tinggal di Bandung, beberapa kali Istri dan Anak Anak menginap di Kost saya dan kami ke Trans Studio Bandung, Rumah Sosis, Lembang dan Tangkuban Perahu. Meskipun hanya 1 tempat tidur, kami menikmati setiap kali di Bandung.

Saat ini, saya masih suka diberi tugas dinas ke Bandung dan selalu menyenangkan jika kesana. Teman-teman lama, tempat nongkrong yang asyik, makanan & minuman yang enak enak, belanja yang relatif lebih murah.

Alhamdulillah, saya sangat menikmati Bandung dengan keunikan dan keutamaannya. Semoga Anda juga, aamiin.

Andri Yudistira pernah tinggal di Bandung pada Januari-Mei 2013.




4 komentar:

  1. enak donk mas kebandung, bisa buat ngilangin stress,,hehe
    jadi pengen kebandung..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tinggal di bandung menyenangkan. Untungnya saya tinggal disana setelah menikah hehehe

      Hapus
  2. jadi pengen tinggal di Bandung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mohon kepada Allah SWT agar mempunyai usaha restoran dan sekaligus rumah tinggal di Bandung, aamiin.

      Hapus

Semua komentar akan dimoderasi terlebih dahulu untuk memastikan komentar anda relevan dengan isi dari konten posting Dasar SEO - Blog Search Engine Optimization (SEO) Google untuk Indonesia ini. Selamat belajar cara teknik SEO Google yang khusus untuk teknik SEO Blogspot, teknik SEO Blogger dan teknik SEO Wordpress di Blog SEO Google ini.